Kasus Jatuhnya Garuda: Nothing Perfect
Begitu kagetnya saya pagi ini, bunyi ambulan meraung-raung di jalan. Dan baru beberapa saat yang lalu, saya baru dapat informasi dari sekilass info RCTI pukul 08.15. Bahwa telah terjadi gagal mendarat pesawat Garuda GA 200 dari Jakarta di Lanud Adi Sucipto. Pesawat dengan jenis Boeing 737-400 ini terbakar dan tinggal ekor dan logo Garuda.
Perusahaan penerbangan Garuda yang sebelumnya mengklaim diri sebagai tempat paling nyaman dan aman untuk bertransportasi udara ditengah banyaknya kecelakaan yang terjadi pada perusahaan penerbangan swasta lain yang menggunakan harga rendah untuk ujung tombak marketing.
Dengan terjadinya insiden ini, bisa dijadikan sebuah tolak ukur bahwa bukan berarti harga tinggi, menjamin kenyamanan dan keamanan.
Kenyamanan dan Keamanan lebih ditentukan pada etos kerja dan manajemen perusahaan itu sendiri. Memang ada korelasi antara pengelolaan yang baik dengan tingginya biaya operasional dan berimbas pada tingginya harga jual tiket. Tapi bukan berarti sebaliknya bahwa tingginya harga jual tiket menunjukkan pengelolaan yang baik.
Selama ini, saya sedikit gerah dengan iklan Garuda yang seolah bernyanyi diatas penderitaan orang lain. Seakan-akan hanya di Garuda kita bisa mendapatkan kenyamanan dan keamanan itu. Dan berlindung untuk tetap memberikan harga tinggi.
Memang, saya tidak dapat memungkiri ada kemungkinan faktor nonteknis, seperti keadaan alam yang sepertinya kurang bersahabat. Tapi bila melihat keadaan, pagi ini terlalu cerah untuk dikambing hitamkan.
Semoga ini menjadi renungan, bahwa memang tidak ada yang sempurna. Semuanya ada kelemahan dan kelebihan dan kesombongan hanya hak Tuhan tak ada makhluk pun yang berhak menyamainya.
Trackback URL for this post:
Ah mas ahmad dari ini sok
Ah mas ahmad dari ini sok tau aja kayak roy suryo....namanya kecelakaan ya kecelakaan...kalo diambil rata2 stastiknya emang garuda kok yg paling baik dan paling jarang kecelakaan
masak pake gerah segala...emang kamu menderita dengan iklan garuda
ttd
burung garuda, burung paling gagah perkasa
Hehehe.. sok tahu? mungkin
Hehehe.. sok tahu? mungkin .. tapi kalo kayak si roy, nanti dulu.. saya nggak sealiran dengan dia.
Kalaupun berdasar statistik garuda paling sedikit terjadi kecelakaan. Tapi akhirnya pernah juga mengalami. Saya hanya ingin menunjukkan, bahwa tidak ada yang sempurna; jadi ya.. jangan sombong.
nyoba ngerjain soal
nyoba ngerjain soal matematik nih mas dani..
smoga ini tidak terjadi
smoga ini tidak terjadi lagi..terakhir saya naik a*** a** takeoff dibandara adisucipto duduk paling belakang guncanganya keras sekali...bikin nyali ciuut..:(
saya setuju mas bahwa nggak
saya setuju mas bahwa nggak selamanya pelayangan tinggi dengan harga tinggi!, ini emang udah musibah bagi kita semua semoga kita dapat mengambil hikmahnya.
Terima kasih atas
Terima kasih atas komentarnya...
semoga kita dapat mengambil hikmahnya? saya selau bertanya-tanya dengan statemen ini; mengapa harus ada musibah dulu..baru bisa sadar?
Pengorbanan terlalu besar untuk sebuah kata sadar.. Pak Koesnadi mantan Rektor UGM, salah satu putra terbaik bangsa yang kebetulan saya pribadi sangat mengagumi beliau harus menjadi korban payahnya pelayanan Garuda.
Mengapa saya katakan parah... saya yakin tidak akan ada dimanapun juga pilot dan awaknya menyelamatkan diri dulu... dan meninggalkan penumpangnya..
Sudah seharusnya para awak mengevakuasi penumpang dulu, apalagi yang sudah lemah seperti pak Koesnadi(Pak Koesnadi bila berjalan biasanya selalu memakai tongkat). Bukannya melarikan diri..
Hmm... tapi parameter
Hmm... tapi parameter penilaian jangan hanya pada jumlah kecelakaan.
Sangat banyak keluhan untuk maskapai lain adalah tentang kualitas sarananya, mulai dari atap bocor, pesawat tanpa AC (bayangkan panasnya), rebutan kursi ala bus kopata, turun dari pesawat tidak disediakan tangga (tapi plorotan), pesawat dilapban di sana sini...
Kalo parameternya hanya kecelakaan, saya rasa kurang adil.
piss... (100% yakinlah saya bukan marketing Garuda)
Terima kasih atas responnya,
Terima kasih atas responnya, semoga benar anggapan saya siapa Anda.
Memang benar..masih banyak parameter lain, selain kecelakaan. Tapi saya yakin kita semua sepakat bahwa kecelakaan (diluar faktor non teknis)adalah sebuah klimaks dari parameter yang lain...
Dan biasanya cara berfikir orang awam pada umumnya memandang kecelakaan sebagai faktor utama pada saat diharus kan untuk memilih.
Nah ini, bisa jadi momen yang tepat untuk maskapai yang lain..untuk unjuk gigi..bahwa dia bisa berbuat lebih daripada hanya menyediakan layanan yang seadanya sebagaimana Anda sebutkan.
Sekali lagi terima kasih. Dan mohon jangan sungkan-sungkan berkunjung kembali.
baru saja saya ngobrol
baru saja saya ngobrol dengan teman, dan - untuk pertama kalinya - dia mempunyai analisa yg luar biasa tentang kecelakaan ini.
Kecelakaan ini terjadi pada Boeing 737-400 milik Garuda dengan nomor penerbangan GA200... Perhatikan jika nomor itu kita susun sedemikian rupa:
GA200 737 - 400
kita ubah susunannya menjadi begini:
GA - 2007 3 7 - 400
Lihat susunan angka di tengah=>
7 Maret 2007!!!
Suatu kebetulan? Ato ada yg bisa bantu mengartikan angka 400-nya?
400 jeti utk uang santunan.
400 jeti utk uang santunan.
Trima kasih bu Susan atas
Trima kasih bu Susan atas kunjungannya..
sering-sering datang dan jangan lupa onlinekan account ym saya...
Hehehe... bener juga...
Bener mas Ahmad, memang
Bener mas Ahmad, memang tidak ada yang sempurna...
Musibah-musibah..kapan akan berhenti? Mungkin seiring dengan berhentinya bumi berputar..
Ada benang merah? Mohon
Ada benang merah?
Mohon maaf... karena komentar tidak berhubungan dengan topik. Dengan amat sangat terpaksa komentarnya saya edit.
Sorry, boss. Bukan maksud
Sorry, boss. Bukan maksud saya untuk nge-junk. Hanya ingin menambahkan informasi kenapa landasan bandara adisutjipto tidak bisa diperpanjang ke arah timur.
peace...
Tidak masalah, dan mohon
Tidak masalah, dan mohon maaf bila saya salah..ini bisa jadi koreksi kita bersama...
Saya tidak melihat alasan itu dikomentar anda sebelumnya.












bener mas ahmad kalau aku
bener mas ahmad kalau aku bilang sih kecelakaan bisa terjadi di mana aja n kapan aja, ajal menjemput tanpa diundang, makanya kita harus selalu siap dengan menjalani hidup mendekatkan diri pada Tuhan, kepastian keselamatan n keamanan cuma dalam Tuhan diluar itu kayaknya nggak berharga n nggak pasti biar kita punya semua kenikmatan dunia.salam sejahtera n sukses bwt mas ahmad.God Bless
(salut buat mas ahmad,prinsip mas ahmad kayak prinsip bokap aku tuch~istri emang harus tunduk ama suami)