SKU, Haruskah?
SKU, atau biasa disebut Studi Kelayakan Usaha adalah suatu upaya untuk mempelajari layak atau tidaknya sebuah usaha. SKU ini sering digunakan untuk usaha baru, meski tidak sedikit yang menggunakannya untuk pengembangan usaha yang sudah ada.
Untuk itu, sudah seharusnya bila memulai sebuah usaha dengan perencanaan yang matang. Bukan asal grusa-grusu, asal usaha itu berdiri, tanpa memperhitungkan masalah yang akan terjadi.
Sudah terlalu banyak contoh usaha rekan saya yang terpaksa harus di"makam"kan (biasanya) berbarengan dengan habisnya masa kontrakan kantornya.
Satu diantaranya, sebuah lembaga kursus komputer dengan paket OS khusus. Dengan hanya berbekal pernah menjadi pengajar di sebuah lembaga serupa dengan brand yang cukup bagus di kota Jogja dan dana lebih dari 150 juta, teman saya ini nekat memulai.
Sayangnya semua bekal ini tidak dilengkapi dengan pengetahuan bisnis, marketing apalagi forecasting yang memadai. Hasilnya, sejak dibuka sampai menjelang "ajal", usaha ini nyaris tidak pernah memberikan surplus dari biaya bulanan. Apalagi jika biaya penyusutan, gaji buat dia sendiri dan beberapa komponen lain diperhitungkan, malah semakin jelas kerugiannya.
Untuk membuat sebuah SKU, tidak perlu dilakukan riset dengan biaya mahal bila tidak mampu. Cukup dengan pengetahuan umum dan melakukan beberapa asumsi dan judgment yang tentunya harus berdasar. Analisa potensi pasar dan juga pesaing yang ada sehingga dapat diambil segmen pasar yang jelas.
Dari analisa, kemudian disusun strategi-strategi menghadapi berbagai permasalahan yang telah disusun.
Tak lupa, karena studi kelayakan ini dipergunakan untuk menilai kelayakan sebuah usaha, maka analisa ekonomipun harus disertakan. Mulai dari Net Present Value(NPV), Payback Periode, ROI, BEP dan lain sebagaimanya.
Trackback URL for this post:
kalo ada yang punya contoh
kalo ada yang punya contoh lengkap bisnis plan tolong saya, saya butuh contohnya
SKU, mudah disebut, rumit
SKU, mudah disebut, rumit juga menjalankannya...
Studi sudah dibuat, rencana di mantapkan. Kebanyakan pengusaha baru (kaya aku) mimpinya aja yang indah, tapi ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan manajemen yang makin lama makin kompleks, wuih...
Tapi bener pak, tidak ada yang tidak mungkin. Pengalaman akan mengajarkan semuanya. Termasuk intuisi.
Yang penting sekarang adalah DO IT!
Konsep yang bagus gak ada artinya kalo cuman jadi kertas putih...ya klo bisa jadi kertas biru, ato merah yang banyak....ituloh..kertas gambar sukarno hatta...hehehehehe....
Piye pak, ada ilmu lain yang siap dibagi? Aku siap menampung!!!!
yo 'i, sebagaimana bentuk
yo 'i, sebagaimana bentuk planning yang lain, SKU memang rumit menjalankannya. Yang menjadi penekanan disini bukan masalah rumitnya "actuating" dari sebuah planning karena ini urusan yang berbeda. Tapi pentingnya "planning" dari sebuah "actuating".
"Just do it!", "Learning by doing" atau yang lainnya tanpa persiapan sebuah "plan" yo sama aja dengan buang uang. Mending dikasihkan aku aja!.. eh salah dikasihkan yang lebih membutuhkan.
Sebuah plan untuk usaha kecil, tidak harus menghitamkan kertas putih, meski terkadang ini sangat dibutuhkan.
Walah, koq malah "boso londo" yang keluar, padahal waktu kuliah nggak pernah dapat bagus.
BTW, usahamu meningkatkan juga berkat sebuah SKU kacangan, kan. Hayo ngaku siapa yang buat landasan SKUnya?
Makasih infonya,
Makasih infonya, Mas!!!paling tidak..jadi pertimbangan buat yang lagi belajar bisnis kaya saya...
Weh.. mas ahmad nih..bisa
Weh.. mas ahmad nih..bisa managemen juga toh.. waduh.. kayaknya ampuh tuh..bisnisannya












Dibeberapa kasus ada memang
Dibeberapa kasus ada memang perencanaan yang dilakukan hanya melalui lisan dan ketika dihadapkan dengan permasalahan tentang produk, pemasaran dan produksi yang dilakukan adalah pemecahan masalah yang bersifat temporer/semetara dan dilakukan secara pragmatis(asal bunyi tanpa pertimbangan/menyepelekan. Akibatnya yang terjadi justru tidak ada perubahan apapun dalam menangani masalah yang dihadapi.
Diperusahaanku tidak dibuat suatu bisnis plan maupun pembuatan cash flow. ternyata perencanna lisan pun berjalan dengan hasil pemasaran yang baik tapi akibat tidak terkendalinya cashflow diperusahaan.
Rencana penegmbangan riset dan produksi jadi amburadul dan time consume serta jadi hight cost.